Filosofi Bisnis yang Dicanangkan Sukanto Tanoto Dilakukan Secara Nyata di RGE

Umum

Keberadaan Royal Golden Eagle (RGE) selalu memberikan manfaat bagi berbagai pihak di sekitarnya. Sebab, mereka menjalankan filosofi bisnisnya secara nyata dalam operasional perusahaan sehari-hari.

Berdiri pada 13 Maret 1973 dengan nama Raja Garuda Mas, mereka dikenal sebagai sebuah korporasi kelas internasional yang menjalankan bisnis dalam bidang pemanfaatan sumber daya. Pada awalnya RGE terjun dalam produksi kayu lapis. Namun, seiring waktu, industri yang ditekuninya berubah dan kian variatif.

Raja Garuda Mas mampu mengembangkan sayapnya hingga punya anak-anak perusahaan di bidang minyak dan energi, serat viscose, kelapa sawit, selulosa spesial, serta pulp dan kertas. Berkat itu, aset mereka sudah mencapai 18 miliar dolar Amerika Serikat dengan karyawan sekitar 60 ribu orang.

Seiring perkembangan bisnis dari skala lokal menjadi global, perubahan terjadi di tubuh Raja Garuda Mas. Transformasi nama menjadi Royal Golden Eagle dilakukan untuk mengakomodasi tuntutan tersebut pada 2009.

Kisah keberhasilan Royal Golden Eagle tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Sebab, mereka menjadi contoh konkret bahwa perusahaan dalam negeri bisa bersaing di pentas dunia.

Terlebih lagi ada beragam produk unit bisnis RGE banyak dipakai oleh khalayak internasional. Selain itu, anak-anak perusahaannya selalu menjadi pemain penting di bidang industrinya masing-masing.

Akan tetapi, kebanggaan yang dirasakan oleh Indonesia bukan hanya akibat reputasi mentereng Royal Golden Eagle. Lebih dari itu, kehadiran mereka memang selalu mampu menghadirkan dampak positif bagi berbagai pihak.

Contoh nyata yang bisa diajukan cukup banyak. Kontribusi penting Grup APRIL terhadap Provinsi Riau misalnya. Riset yang dilakukan oleh Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia menunjukkan bahwa unit bisnis RGE yang bergerak dalam industri pulp dan kertas ini bermanfaat besar.

Menurut mereka, APRIL berkontribusi terhadap 6,9 persen perekonomian Riau. Selain itu, sejak kehadiran APRIL pada 1993, pendapatan Provinsi Riau meningkat sebanyak 2,29 kali lipat. Hal itu masih ditambah dengan 5,4 persen pendapatan rumah tangga di sana berasal dari APRIL.

Kontribusi positif APRIL juga dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya. Sebab, lapangan pekerjaan terbuka bagi mereka. Bahkan, unit bisnis bagian RGE ini sanggup membuka pekerjaan secara tidak langsung untuk lebih dari 11.200 kontraktor.

Namun, manfaat positif yang dihadirkan oleh Royal Golden Eagle kepada khalayak bukan hanya berasal dari APRIL. Anak perusahaan lain seperti Asian Agri juga menghadirkan hal serupa.

Asian Agri adalah unit bisnis RGE yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit. Mereka dikenal sebagai pelopor program kemitraan dengan petani. Asian Agri termasuk sebagai perintis program plasma inti dalam industri kelapa sawit. Selain itu, mereka juga terus meningkatkan kerja sama dengan petani swadaya.

Berkat ini semua, Asian Agri sudah mendukung perekonomian sekitar 30 ribu keluarga petani dalam sistem plasma dan inti. Para petani plasmanya itu tercatat mengelola lahan perkebunan seluas 60 ribu hektare.

Namun, belakangan Asian Agri ingin terus meluaskan kemitraan dengan para petani swadaya. Mereka tahu kerja sama semacam ini mampu mendukung penghidupan keluarga petani.

Sampai tahun 2016, Asian Agri telah menggandeng perkebunan petani swadaya seluas 24.500 hektare. Jumlah itu melonjak menjadi 30 ribu hektare pada 2017. Namun, pada 2018, anak perusahaan RGE ini menargetkan lahan kemitraan dengan petani swadaya sudah mencapai 40 ribu.

FILOSOFI BISNIS PERUSAHAAN

FILOSOFI BISNIS PERUSAHAAN

Source: Asian Agri

Royal Golden Eagle masih memiliki anak perusahaan lain seperti Apical, Asia Symbol, Sateri, Pacific Oil & Gas, dan Bracell. Semuanya sama seperti Asian Agri dan APRIL, yakni selalu berguna bagi berbagai pihak di sekitarnya.

Hal itu bisa terjadi karena manfaat kepada pihak lain merupakan tuntutan operasional RGE. Mereka punya gerak yang senada untuk menjalankan filosofi bisnis perusahaan.

Pendirinya, Sukanto Tanoto, mempunyai visi yang panjang tentang Royal Golden Eagle. Ia menilai perusahaannya itu tidak akan mampu bertahan jika tidak mampu memberi kontribusi positif bagi berbagai pihak di sekitarnya.

“Jika tidak peduli terhadap masyarakat, tidak peduli terhadap negara, Anda tidak akan bertahan. Ini sangat sederhana,” ucap Sukanto Tanoto.

Sebagai langkah nyata, ia akhirnya merumuskan prinsip kerja yang dinamai sebagai filosofi bisnis 5C. Lewat arahan kerja ini, ia mengharapkan agar Royal Golden Eagle mampu berguna bagi berbagai pihak.

Awalnya prinsip 5C hanya terdiri dari tiga aspek. Royal Golden Eagle diwajibkan untuk good for community, country dan company. Setelah itu ada penambahan pertama adalah good for climate yang disusul dengan good for customer.

Menariknya semua aspek ini tidak hanya sekadar menjadi slogan belaka. Semua pihak di Royal Golden Eagle mau menjalankannya secara nyata. Hal ini diakui oleh Vice Chairman RGE Bey Soo Khiang.

“Hal yang saya sukai dari perusahaan ini adalah mereka mau membawa nilai-nilai dasar tersebut ke dalam kehidupan. Nilai itu tidak hanya dibicarakan, tidak cuma didiskusikan, atau sekadar digantung di dinding, tapi dipraktikkan secara menyeluruh di dalam operasi bisnis perusahaan,” ujarnya.

Pernyataan itu tidak berlebihan. Semua pihak di bawah naungan Royal Golden Eagle memang menjalankan prinsip kerja 5C. Hal itu berkat dorongan tak henti yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto.

Untuk menjaga filosofi bisnis yang dicanangkannya bisa berjalan nyata, Sukanto Tanoto selalu menginstruksikan agar RGE mau membuka diri terhadap masyarakat. Publik sering diajak bekerja sama dalam berbagai bentuk.

Ambil contoh sederhana terkait suplai produk yang dibutuhkan perusahaan. RGE tidak segan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi supplier.

Mereka tidak ragu membantu agar masyarakat mampu menjadi supplier yang kompeten. Mereka mau mengajari proses produksi hingga manajemen usaha yang dijalankan.

Contoh nyata dijalankan oleh APRIL. Mereka sering bekerja sama dengan masyarakat yang menyuplai arang sekam. Nantinya hal itu dipakai oleh APRIL sebagai media pembibitan pohon akasia sebagai sumber bahan baku pulp dan kertas.

Lain lagi dengan Asian Agri. Mereka mau mengajari para petani kelapa sawit untuk memiliki kemampuan mendapatkan penghasilan lain. Petani dilatih beternak maupun bercocok tanam yang benar. Ini penting sebagai alternatif pendapatan serta persiapan ketika masa replanting tiba.

Sukanto Tanoto tak pernah segan untuk mengingatkan kepada pengelola anak-anak perusahaannya agar selalu menjalankan prinsip 5C. Ia selalu menandaskan bahwa hal itu justru menjadi kunci bagi perusahaan untuk bertahan lama.

“Kalian harus terus memerhatikan masyarakat sekitar, tidak hanya para karyawan, tapi juga komunitas. Hal ini tidak terbatas pada mendidik masyarakat dengan membangun sekolah. Masyarakat harus makan, mereka harus bertahan hidup. Jadi ketika pemerintah tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, para pengusaha harus masuk untuk segera memenuhi kebutuhan tersebut,” pesan Sukanto Tanoto kepada segenap pihak di RGE.

Berkat ini, Royal Golden Eagle bisa menjalankan filosofi bisnis 5C dengan baik sehingga bisa memberi manfaat kepada banyak pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *